Social Icons

twitterfacebookemail

Jumat, 16 November 2012

Pengendalian Penyakit Hawar Daun Bakteri pada Tanaman Padi sawah



MATERI PENYULUHAN

Judul Materi               :  Pengendalian Penyakit Hawar Daun Bakteri pada Tanaman
   Padi sawah
Waktu Pelaksanaan    : 
Nama PPL                    :  Jakes Sito, SP
Nama Kelompok Tani  :  

Penyakit hawar daun bakteri (HBD) disebut juga dengan bacterial life blight (BLB) disebut juga dengan penyakit kresek. Serangan penyakit ini dimulai dengan gejala bercak kuning sampai putih berawal terbentuknya garis lebam berair pada bagian tepi helaian daun. Bercak dimulai dari salah satu atau kedua tepi helaia daun, atau pada tiap bagian helaian daun yang rusak dan berkembang hingga menutupi seluruh bagian helaian daun. Pada variatas yang rentan bercak bisa sampai ujung daun hingga bawah pelepah daun. Jika bakteri menyerang melalui akar dan pangkal batang tanaman padi muda bisa layu lalu mati kering seperti terbakar (gejala ini biasa disebut penyakit kresek). Kadang-kadang daun yang terinfeksi dapat berwarna kuning pucat atau kuning atau kuning bergaris hijau.

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae yang dapat masuk kejaringan tanaman melalui akar yang putus, luka pada daun dan hidatoda pada tepian daun. Bakteri ini dapat tertular ketika proses penanaman berlangsung, ketika pencabutan benih yang menyebabkan akarnya rusak/ putus dan luka pada daun yang diakibatkan oleh angin maupun perompesan ketika proses penanaman. Sumber inveksi penyakit ini adalah benih, jerami, tunggul, anakan ataupun gulma yang terinfeksi. Penyebaran dapat terjadi melalui angin kencang, embun, air hujan dan air irigasi.
Jika anda menemukan tanaman padi yang muda pada saat fase awal pertumbuhan tiba-tiba layu dan akhirnya mati.  Begitu juga jika anda menemukan tanaman padi yang telah dewasa tepi daunya berwarna keabu-abuan dan akhirnya mengering.  Kemungkinan besar tanaman padi anda   terserang penyakit hawar daun bakteri (HDB).
Tanaman padi yang terserang penyakit hawar daun bakteri (HDB) pada fase awal pertumbuhan, tanaman layu dan akhirnya mati.  Gejala inilah yang biasanya oleh petani disebut dengan penyakit kresek. Sedangkan pada tanaman dewasa serangan mulai dari tepi daun berwarna keabu-abuan dan akhirnya mengering sehingga tanaman tidak dapat berfotosintesisi dengan baik sehingga pertumbuhan tanaman terganggu.  Apabila serangan pada saat tanaman berbunga, hawar daun bakteri ini dapat menyebabkan kerugian  yang sangat besar dengan mengurangi hasil sampai 50-70% akibat pengisian gabah terhambat sehingga gabah hampa meningkat.

Pengendalian Hawar Daun Bakteri (HDB) Dengan teknik budidaya.
Pengendalian penyakit hawar daun bakteri dilakukan secara terpadu dengan menggunakan teknik budidaya.  Beberapa teknik budidaya yang disarankan antara lain dengan perlakuaan bibit dan pergiliran varietas, menanam dengan jarak tanam yang tidak terlalu rapat, irigasi / pengairan secara berselang (intermeten), pemupukan sesuai kebutuhan tanaman dan menanam varietas tahan.
Perlakukan bibit dilakukan dengan cara jangan menanam bibit yang dipotong akar atau daunya terlebih dulu sebab akan mempermudah infeksi bakteri Xoo..  Strain / Patogen HBD ini biasanya menginfeksi melalui luka bekas potongan pada bibit padi yang ditanam.
Penyakit hawar daun bakteri ini dipicu juga oleh keadaan lingkungan sekitar pertanaman dengan kelembaban yang tingi.  Oleh karena untuk menekan perkembangan HBD ini dilakukan dengan menanam padi dengan jarak yang tidak terlalu rapat. Pengairan dilakukan secara berselang  (intermiten) sesuai dengan fase pertumbuhan tanaman dan jangan menggenangi tanaman padi  secara terus menerus.
Hawar daun bakteri juga berkembang pada tanaman padi yang dipupuk dengan pupuk Nitogen dengan dosis yang tinggi tanpa diimbangi dengan pupuk Kalium.  Pupuk Nitrogen yang tinggi akan memacu pertumbuhan vegetatif tanaman namun tanaman kurang tahan terhadap infeksi bakteri patogen Xoo.  Oleh karena itu untuk menekan perkembangan hawar daun bakteri  ini harus pemupukan tanaman padi harus dilakukan secara berimbang.  Pupuk Nitrogen yang diaplikasikan harus diimbangi dengan aplikasi pupuk Kalium.

 Sedangkan pengendalian hawar daun bakteri dengan aplikasi bahan kimia dapat dilakukan dengan bakterisida.  Namun penggunaan bakterisida ini harus dilakukan secara bijaksana dan sesuai dengan rekomendasi setempat

2 komentar:

Kritik Sering Disarankan..Saran Sering Pula Di Kritik.
Demi Kemajuan Blog ini,. Silahkan Berkomentar